Monday, August 21, 2017

Penanganan Vaksin Ayam Petelur Agar Tetap Berkualitas

Hebohnya wabah flu burung atau avian influenza (AI) pada itik yang disebabkan oleh virus AI clade baru jelas menimbulkan ancaman baru bagi peternakan unggas di Indonesia. Bagaimana tidak? Serangan AI yang disebabkan oleh clade lama saja sampai saat ini belum juga tuntas.

 Dari hasil analisis sequencing R&D Medion resmi dilaporkan bahwa virus AI yang saat ini bersirkulasi di Indonesia terdiri dari clade lama 2.1.3 dan clade baru 2.3.2, serta menyerang semua unggas, baik ayam maupun itik. Sirkulasi clade virus ini juga diketahui tidak dapat dipisahkan secara geografis, sehingga masing-masing peternak tetap harus waspada terhadap AI. Untuk itu, salah satu cara yang dinilai masih sangat efektif dalam mengendalikan AI ialah dengan memberi kekebalan pada unggas (ayam dan itik, red) melalui vaksinasi, serta didukung dengan biosekuriti yang ketat.

Vaksin Berkualitas
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyatakan bahwa untuk mencapai tingkat perlindungan populasi yang memadai terhadap AI, maka vaksin yang digunakan untuk vaksinasi AI harus memiliki kualitas yang baik. Secara umum, vaksin dikatakan memiliki kualitas baik jika segelnya masih utuh atau etiket produknya masih terpasang dengan baik, vaksin belum kadaluarsa (belum melewati expired date/tanggal kadaluarsa), serta bentuk fisiknya tidak berubah.
Tidak hanya itu, vaksin AI yang digunakan pun sebaiknya merupakan jenis vaksin yang homolog dengan virus lapangan. Hal ini karena vaksin homolog-lah yang akan memberikan perlindungan lebih sempurna, sehingga ternak tidak sakit, penurunan produksi tidak terjadi dan cemaran virus dari kotoran ternak atau pernapasan (shedding virus) dapat ditekan.
Di lapangan sendiri, vaksin dengan kualitas baik ternyata masih belum menjamin akan berhasil membentuk kekebalan protektif. Apalagi jika vaksin yang digunakan jauh homologinya dengan virus lapangan. Maka bisa dipastikan, hasil vaksinasinya tidak akan optimal. Terkait dengan kualitas fisik vaksin ini, ada sejumlah faktor risiko yang mengancam terutama selama proses pendistribusian vaksin.
Seperti diketahui bersama bahwa semua jenis vaksin AI komersial tidak stabil pada cuaca panas (not thermostable) dan akan rusak bila terkena sinar matahari langsung. Misalnya saja saat vaksin AI disimpan pada suhu ruang (±30°C) maka potensinya akan langsung turun.
Meski semua jenis vaksin pada umumnya tidak tahan terhadap panas, namun bukan berarti vaksin akan tetap bagus kondisinya jika disimpan pada suhu beku. Semua jenis vaksin inaktif, seperti vaksin AI, tidak boleh disimpan pada suhu < 2°C apalagi sampai membeku. Jika sampai membeku, maka bisa dipastikan bahwa potensi dari vaksin inaktif tersebut turun.
Hal ini karena adjuvant (zat pembawa) virus vaksin akan rusak struktur kimianya jika disimpan pada suhu beku. Itu artinya, virus vaksin di dalamnya juga tidak akan mampu bertahan lama jika adjuvant-nya rusak (WHO, 2006). Untuk menghindari hal tersebut, maka penerapan rantai dingin (cold chain) wajib dilakukan oleh produsen maupun para pengguna vaksin.


Penanganan Vaksin oleh Produsen Vaksin

Di tingkat produsen, sistem yang diaplikasikan dalam setiap lini penyimpanan dan distribusi vaksin ialah cold chain system atau sistem rantai dingin. Sistem rantai dingin merupakan sebuah sistem pengelolaan vaksin untuk menjaga vaksin tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan mulai dari pabrik produksi hingga vaksin sampai di tangan peternak sehingga potensi vaksin tetap terjaga hingga akan digunakan.
Oleh para produsen, vaksin yang telah lulus proses QC (quality control), disimpan dalam cool room khusus vaksin bersuhu 2-8°C. Hendaknyacool room ini selain tersedia di pabrik pusat, juga terdapat di wilayah pemasaran/kantor cabang/distributor vaksin. Penyusunan vaksin dalam cool room juga harus memperhatikan kepadatan tumpukan agar sirkulasi udara dingin tersebar secara merata. Selanjutnya dari pabrik pusat, vaksin didistribusikan ke wilayah-wilayah pemasaran/kantor cabang/ distributor menggunakan mobil khusus pengirim vaksin yang dilengkapi dengan mesin pendingin agar suhunya tetap terjaga 2-8°C.


Saat di kantor cabang pun, cool room sebaiknya tetap tersedia agar penyimpanan vaksin sementara sebelum diberikan ke peternak lebih optimal. Demi menjamin produk vaksin Medivac (vaksin Medion), dalam hal ini Medion bahkan sudah melengkapi kantor cabang dengan fasilitas cool roomCool room ini pun selalu di cek suhunya sebanyak 2 kali dalam sehari agar jika terjadi masalah kenaikan atau penurunan suhu, maka bisa segera diantisipasi.

Penanganan Vaksin AI oleh Peternak
Lalu bagaimana penanganan vaksin AI yang benar saat sudah diterima oleh konsumen (peternak atau poultry shop)? Berikut langkah-langkahnya:
1.  Simpan vaksin dalam lemari es
Vaksin AI yang sudah sampai di tingkat konsumen bisa disimpan dalam lemari es yang diset pada suhu 2-8°C. Adapun prosedur penyimpanannya antara lain:
  • Vaksin disimpan pada lemari es bagian refrigerator dan jangan menyimpan vaksin pada bagian freezer.
  • Vaksin inaktif, seperti vaksin AI, tidak boleh disimpan pada rak yang berada tepat di depan pintu dan di bawah freezer.
  • Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin. Jangan membuka tutup lemari es terlalu sering agar suhu di dalamnya tetap stabil.
  • Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi.


Di peternakan sering ditemukan kasus padamnya listrik yang berakibat matinya lemari es. Pada kondisi demikian, lama-kelamaan suhu lemari es akan meningkat. Selama suhu lemari es masih dalam interval 2-8°C maka hal ini tidak akan mempengaruhi kualitas vaksin. Oleh karena itu saat listrik padam dan kita tidak memiliki generator listrik (genset), maka alternatifnya kita bisa menambahkan beberapa batu es sehingga suhu lemari es tetap optimal untuk menyimpan vaksin.
Namun jika suhu vaksin sudah berada di luar interval 2-8°C dalam waktu > 2 jam (untuk vaksin aktif) atau > 24 jam (untuk vaksin inaktif), maka hendaknya vaksin tidak lagi digunakan meskipun secara fisik tidak ada perubahan. Saat suhu lemari es melewati batas suhu penyimpanan, dikhawatirkan kandungan mikroorganisme vaksin sudah kehilangan potensinya dan tidak mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara optimal.
2.  Membawa vaksin
Saat akan dibawa ke kandang, vaksin dimasukkan ke dalam marina cooler, cold box atau termos es berisi es batu. Posisi yang benar adalah vaksin dibawah kemudian es batu diatasnya. Hal ini terkait dengan penyebaran suhu dingin dari atas ke bawah sehingga diharapkan vaksin akan terlindungi. Perbandingan vaksin dengan es batu minimal 1:1.
3.  Thawing vaksin
Satu hal yang terkadang salah di mengerti saat aplikasi vaksinasi yaitu anggapan bahwa saat vaksinasi dilakukan, vaksin harus tetap dikondisikan suhu dingin. Hal ini salah besar. Oleh karena itu, lakukan thawing vaksin (peningkatan suhu vaksin secara bertahap) terlebih dahulu sebelum vaksin AI digunakan. Thawing bertujuan mengkondisikan suhu vaksin yang sebelumnya 2-8°C mendekati suhu tubuh ayam (41°C) dengan cara digenggam sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, suhunya sekitar 25-27°C. Setelah di-thawing, sebaiknya vaksin tidak dimasukkan lagi ke dalam marina cooler yang suhunya 2-8°C karena bisa menurunkan potensi vaksin. Vaksin AI inaktif harus segera diberikan setelah proses thawing dan hendaknya habis digunakan dalam waktu 24 jam.

Menjaga kualitas vaksin, seperti vaksin AI bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin dan hanya dilakukan di tingkat pabrik saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinyu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan peternak. Hal ini tidak lain bertujuan agar vaksin berkualitas mampu membentuk kekebalan pada ayam secara optimal.(http://info.medion.co.id).

Menjaga Kualitas Vaksin Ayam Petelur dari Hulu ke Hilir

Terlepas dari benar atau tidak, kualitas vaksin tentu menjadi hal pertama yang dipertanyakan oleh peternak ketika ayamnya terserang penyakit—terutama penyakit viral—pasca vaksinasi. Hal ini dinilai cukup beralasan, karena salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi ialah kualitas vaksin.
Vaksin Berkualitas
Vaksin dikatakan memiliki kualitas baik jika segel vaksin masih utuh atau etiket produknya masih terpasang dengan baik. Selain itu, expired date (tanggal kadaluarsa) belum habis/terlewatkan dan bentuk fisiknya tidak berubah.
Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di peternakan. Beberapa hal yang dapat menurunkan atau merusak kualitas vaksin diantaraya kemasan rusak, tercemar bahan kimia seperti detergen dan logam-logam berat (Ca, Mg, Mn, dll), suhu penyimpanan dan pH tidak sesuai maupun terkena sinar matahari lansung.

Suhu Menjadi Titik Kritis Handling Vaksin
Selama ini masih ada beberapa peternak yang beranggapan bahwa semakin dingin suhu ruang penyimpanan vaksin, maka kondisi vaksin akan semakin baik. Pendapat itu tentu tidak benar dan perlu diluruskan.
Umumnya memang semua vaksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Misalnya jika vaksin disimpan pada suhu ruang (±30°C). Namun sebaliknya, beberapa vaksin ternyata juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak. Contohnya adalah vaksin inaktif yang dalam penyimpanannya tidak boleh < 2°C apalagi sampai membeku.
Vaksin inaktif bentuk suspensi yang disimpan pada suhu 2-8°C, secara normal akan membentuk 2 lapis cairan. Bila vaksin tersebut dikocok, maka vaksin akan homogen. Kemudian vaksin akan membentuk 2 lapis cairan kembali jika didiamkan dalam waktu yang cukup lama. Berbeda halnya jika vaksin pernah disimpan di freezer atau pernah beku, vaksin akan membentuk 2 lapis cairan hanya dalam waktu < 5 menit. Untuk vaksin inaktif bentuk emulsi yang pernah beku, tidak akan menunjukkan perubahan sejelas vaksin suspensi. Namun dapat dipastikan bahwa potensi dari vaksin itu telah menurun.

Dari beberapa bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa suhu menjadi salah satu titik kritis yang menentukan kualitas vaksin dari awal produksi hingga dipakai peternak. Yang menjadi pertanyaan disini, bagaimana metode penyimpanan vaksin sejak masih di pabrik? Bagaimana dengan proses distibusinya? Bisa saja kualitas vaksin sudah rusak selama perjalanan.
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam handling vaksin secara umum, yaitu:
  • Vaksin harus disimpan pada tempat khusus dengan suhu 2-8ºC.
  • Pengeluaran vaksin dari ruang penyimpanan harus memperhatikan tanggal kadaluarsa (FEFO, First Expired First Out) dan urutan masuk vaksin (FIFO, First In First Out). Jadi, vaksin yang memiliki tanggal kadaluarsa terdekat dikeluarkan lebih dulu.
  • Waktu pengiriman vaksin harus mampu dikelola dengan baik. Perhatikan pula jarak tempuh pengiriman. Hal ini untuk menjamin ketepatan waktu pengiriman dan memperkecil kemungkinan terjadi kerusakan vaksin selama perjalanan. Dengan kondisi tersebut, diharapkan pula vaksin selalu dalam kondisi “fresh” saat akan digunakan oleh peternak.

Cold Chain System dari Hulu ke Hilir
Dalam segala kondisi, suhu vaksin baik aktif maupun inaktif harus dijaga antara 2-8ºC. Mengacu pada standar suhu tersebut, maka produsen vaksin harus mampu menerapkan cold chain system dalam setiap lini penyimpanan dan distribusi vaksinnya

Sistem rantai dingin atau cold chain system adalah sistem pengelolaan vaksin sesuai prosedur untuk menjaga vaksin tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan. Sistem tersebut mulai diterapkan dari pabrik hingga vaksin diberikan kepada sasaran (peternak,red). Cold chain system disini bermanfaat untuk memperkecil kesalahan penanganan vaksin sehingga potensi vaksin tetap terjaga hingga akan digunakan.

 Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang cold chain system diantaranya:
  • Cool room (ruang pendingin)
Vaksin yang telah lulus proses QC (quality control), wajib disimpan dalam cool room khusus vaksin bersuhu 2-8ºC. Hendaknya cool roomini selain tersedia di pabrik pusat, juga terdapat di wilayah pemasaran/distributor vaksin. Penyusunan vaksin dalam cool room juga harus memperhatikan kepadatan tumpukan agar sirkulasi udara dingin tersebar secara merata.

  • Alat pembawa vaksin

Salah satu contohnya ialah cold box berisi es batu. Alat ini umum digunakan untuk menyimpan sementara vaksin yang akan dikirim ke konsumen.
Lalu bagaimana jika jarak pengiriman cukup jauh? Apakah vaksin tetap akan dibawa menggunakan cold box? Tentu hal ini akan menimbulkan resiko besar terhadap kerusakan. Akan jauh lebih aman apabila cold box hanyadigunakan untuk mengirim vaksin antar wilayah dalam kota. Sedangkan untuk wilayah yang cukup jauh, gunakan mobil khusus pengirim vaksin yang dilengkapi dengan mesin pendingin agar suhu tetap terjaga 2-8ºC.

  • Lemari es
Penyimpanan vaksin di tingkat konsumen dapat menggunakan lemari es yang diset suhu 2-8ºC. Adapun prosedur penyimpanan vaksin yang baik di lemari es antara lain:
  1. Vaksin harus disimpan pada lemari es bagian refrigerator. Jangan menyimpan vaksin pada bagian freezer
  2. Vaksin aktif tidak boleh disimpan pada rak di depan pintu freezer
  3. Vaksin inaktif tidak boleh disimpan pada rak yang berada tepat di depan pintu dan di bawah freezer
  4. Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin
  5. Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi

Menjaga kualitas vaksin bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin dan hanya dilakukan di tingkat pabrik saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinyu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan konsumen. (http://info.medion.co.id)

Friday, August 18, 2017

Budidaya Ikan Lele

berikut ini kami coba tampilkan cuplikan video budidaya ikan lele dengan menggunakan kolam terpal



untuk kolam tanah galian bisa dilihat dibawah ini

TAHAPAN MEMULAI PETERNAKAN AYAM PETELUR

Rancangan Kandang Ayam Petelur

Sebelum bisnis ayam petelur dimulai terlebih dahulu harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Beberapa tahapan yang harus dilalui antara lain memahami usaha, menyiapkan modal, menentukan skala usaha, mempersiapkan tenaga kerja, sapronak dan kandang.
                                   
A.   Memahami Usaha

Sebelum memulai usaha ayam petelur, sebaiknya kita mengerti dahulu bagaimana bisnis tersebut bisa dijalankan, tantangan, peluang, bagaimana menjalankannya termasuk resiko yang akan dihadapi karena bisnis ayam petelur adalah bisnis mahluk hidup yang sangat rentan terhadap faktor lain seperti kondisi pasar, penyakit, cuaca, kondisi harga dan lain sebagainya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan belajar mengenai ayam petelur dari peternak yang sudah jalan paling tidak lebih dari 5 tahun sehingga sudah memahami “suka duka berbisnis ayam petelur baik dikala untung maupun dikala rugi sehingga nantinya minimal bisa mengantisipasi jika sesuatu yang buruk terjadi. Pengenalan terhadap pasar juga penting di lakukan. Jangan sampai kita sudah memulai produksi tapi tidak tau harus memasarkanya kemana.

Manajemen pemeliharaan juga tidak kalah pentingnya. Manajemen pemeliharaan mempengaruhi lebih dari 60% keberhasilan bisnis ayam petelur. Untuk itu, kita harus belajar dulu atau minimal punya standar acuan dalam melaksanakan pemeliharaan baik itu berasal dari buku, internet dll, atau bisa magang/belajar dari peternak yang berpengalaman. Paling tidak teorinya kita pegang, kalaupun nanti menggunakan tenaga kerja yang sudah terampil setidaknya kita tidak bisa dibohongi atau ditipu pekerja bahkan bisa memberi masukan yang mungkin berharga.

B.   Menyiapkan Modal

Modal dari sudut pandang adalah barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serta pengelolaan yang dapat menghasilkan barang baru. Modal dapat berupa materi seperti uang, tanah, dll. maupun potensi pribadi (SDM) seperti keberanian, ketrampilan, kejujuran dll. Modal dalam yang berupa uang sangat penting untuk menjalankan bisnis pullet, sebab untuk memulai usaha ini membutuhkan modal yang cukup besar.

Modal dalam pengertian sehari-hari adalahsejumlah uang yang perlu dimiliki sebagai langkah awal berusaha. Besarnya uang tergantung pada skala usaha, jenis usaha, serta ketersediaan barang dan bahan yang diperlukan untuk melaksanakan bisnis tersebut. Modal untuk bisnis pullet terdiri atas:
§     Modal investasi yaitu penyediaan sarana usaha yang bersifat fisik seperti sewa tanah, pembuatan kandang, perizinan dll.
§     Modal kerja yaitu modal yang digunakan untuk membiayai semua kegiatan usaha, seperti pembelian DOC, pakan, obat dll.
Beberapa langkah yang harus ditempuh untuk melaksanakan manajemen keuangan dan permodalan adalah sebagai berikut:
1)    Sebelum melaksanakan kegiatan, ada baiknya dilakukan analisis pembiayaan atau permodalan yang mencakup modal investasi dan modal kerja.
2)    Setelah besarnya modal diketahui, besar modal yang sudah tersedia bisa dinilai. Misalkan, tanah dan kandang sudah tersedia tentunya hal tersebut akan mengurangi jumlah modal yang harus disediakan.
3)    Semua bentuk aset yang dimiliki bisa dihitung (termasuk dana segar yang dimiliki). Kemudian, dihitung berapa kekurangan modal yang dibutuhkan atau melaksanakan bisnis sesuai dengan kemampuan modal yang tersedia.

Modal dapat diperoleh dengan cara, masing-masing memiliki keunggulan maupun kekurangannya terutama dilihat dari sesikonya. Cara memperoleh modal tersebut antara lain:

a.    Modal pribadi
Yaitu modal yang digunakan untuk usaha peternakan seluruhnya berasal dari peternak.  Resiko dari usaha ini ditanggung sepenuhnya oleh pribadi.

b.    Modal pinjaman (bisa dari bank maupun lainnya)
Bank merupakan lembaga keuangan yang bisa memberikan bantuan modal dalam bentuk kredit dengan bunga tertentu.  Madal ini dapat digunakan untuk memulai usaha atau mengembangkan usaha yang telah ada. Untuk menandapatkan pinjaman peternak biasanya mengajukan pinjaman ke bank-bank dengan syarat tertentu dan mengikuti aturan harus yang ditetapkan

c.    Modal patungan
Yaitu modal yang diperoleh dengan patungan antara dua orang atau lebih untuk mendirikan atau melaksanakan usaha peternakan. Keuntungan dari sistem permodalan seperti ini adalah resiko dapat ditanggung bersama sehingga mungkin terasa lebih ringan

d.    Melibatkan beberapa penanam modal
Biasanya sistem ini lebih benyak dipakai karena menguntungka kedua belah pihak.  Dengan sistem ini pemilik modal tidak perlu susah payah memikirkan atau melaksanakan usaha namun pemilik bisa menarik keuntungan sesuai perjanjian yang telah disepakati dan pengusaha dapat memulai usaha dengan modal dari investor tersebut.

Biaya yang dikeluarkan pemeliharaan ayam petelur sampai dengan dari DOC sampai dengan Pullet per 1.000 ekor sampai umur 13 minggu dapat dilihat pada tabel. Umur 13 Pullet dapat di jual. Jika akan diteruskan sampai berproduksi berarti biaya/modal yang dibutuhkan akan lebih banyak, paling tidak sampai ayam berproduksi telur 60%. Jika sudah berproduksi 60%, biaya pemeliharaan sudah tercover dari produksi atau penjualan telur. Perkiraan biaya yang dibutuhkan sampai ayam berproduksi adalah Rp66.000.000 per 1.000 ekor atau Rp66.000 per ekor, itu belum termasuk investasi kandang dan peralatan sebesar Rp50.000.000 per 1.000 ekor.

Biaya pemeliharaan ayam petelur dari DOC sampai Pullet 13 minggu per 1.000 ekor
No
Pengeluaran
Volume
Satuan
Jumlah
(Rp.)
1
Pembelian DOC grade 1
1.000
Ekor
8.000.000
2
Pembelian Pakan
3.900
Kg
24.090.000
3
Penyusutan Kandang
1
Periode
400.000
4
Penyusutan Peralatan
1
Periode
200.000
5
Biaya OVK
1.000
Ekor
2.000.000
6
Biaya Operasional (sekam, gas dll)
1.000
Ekor
3.500.000
Total
38.190.000
Biaya/ekor dg mortalitas 2%
38.969
            Sumber: berbagai sumber, 2012

C.   Menentukan Skala Usaha

Menentukan skala usaha berarti menentukan berapa ekor ayam yang akan dipelihara agar bisnis bisa berjalan secara kontinyu dan menguntungkan. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjalankan bisnis pullet antara lain:

1.    Modal yang tersedia

Jumlah ternak yang akan dipelihara tergantung dari besarnya modal yang dimiliki. Semakin besar modal (uang) semakin banyak pula ayam yang dapat dipelihara asalkan faktor-faktor lain mendukung. Sebaliknya, semakin kecil modal, jumlah ayam jantan yang dapat dipelihara juga semakin sedikit. Modal untuk beternak ayam jantan digunakan untuk modal investasi dan modal kerja.

2.    Ketersediaan lahan

Jika menghendaki beternak dengan kandang pribadi, maka perlu membangun kandang terlebih dahulu. Untuk kandang Pullet dengan kepadatan kandang 12 ekor per meter persegi (1:12), maka untuk pemeliharaan 1.000 ekor pullet membutuhkan lahan untuk kandang seluas 1.000/12 = 83,33 m2 atau + 84 m2. Jika kandang tingkat 2, maka luas tiap lantai adalah 42 m2. Namun, perlu dibangun pula mess karyawan (anak kandang), gudang pakan, tempat mencuci tempat pakan dan minum serta peralatan pakan, saluran drainase, dan gudang tempat penyimpanan alat.

Selain kandang pembesaran, kandang ayam petelur periode produksi juga perlu disiapkan. Kebutuhan kandang ayam petelur periode produksi kurang lebih + 166 m2per 1.000 ekor. atau kurang lebih + 180 mdengan gudang pakan dan mes karyawan. Jika kita memulai ayam petelur dengan membeli pullet (tidak memelihara sendiri dari DOC) lahan untuk pembuatan kandang pemeliharaan pullet tidak diperlukan.

3.    Kapasitas kandang dan perlengkapan

Jika kandang sudah tersedia, kapasitas kandang dan jumlah perlengkapan menentukan skala usaha. Misalkan, luas kandang adalah 100 m2 maka populasi pullet maksimal adalah 100x12 ekor = 1.200 ekor dengan catatan jumlah peralat mencukupi sesuai standar penggunaannya.

4.    Efisiensi biaya produksi

Efisiensi produksi terkait dengan jumlah tenaga kerja dan penggunaan bahan bakar pemanas. Misalkan, untuk memelihara pullet 1.000 ekor sebenarnya belum memerlukan tenaga kerja tetapi cukup dikerjakan sendiri. Idealnya 1 orang tenaga kerja mampu menangani 3.000 ekor.

5.    Kebutuhan atau permintaan pasar

Pasar merupakan faktor penting dalam menentukan skala usaha. Percuma memelihara ayam petelur dalam jumlah besar jika tidak bisa hasil produksi tidak bisa dipasarkan. Peliharalah ayam petelur sesui dengan kapasitas pasar atau kemampuan memasarkan. Suplay yang melebihi permintaan dapat mengakibatkan harga jatuh dan itu berarti kerugian bagi peternak. Maka dari itu, sebelum beternak terlebih dahulu dilakukan survey pasar. Mulailah dari jumlah yang kecil dahulu untuk kemudian bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar.

Selanjutnya setelah segalanya tersedia, terakhir adalah menyiapkan tenaga kerja untuk mengelola peternakan ayam petelur kita. Kriteria yang ditetapkan sebagai pekerja kandang tidak perlu terlalu tinggi. Hal terpenting yang harus dimiliki oleh calon pekera kandang adalah sikap tekun, jujur, dan berkomitmen pada pekerjaan. Meskipun tenaga kerja yang direkrut bukan merupakan orang yang mempunyai kecerdasan IQ tinggi dan berpengalaman beternak ayam, namun dengan ketekunan yang dimiliki diharapkan pekerja tersebut mau belajar maupun mengikuti instruksi peternak. Sifat jujur sangat diperlukan karena karyawan tersebut tidak mungkin diawasi secara penuh 24 jam. Komitmen terhadap pekerjaan juga diperlukan mengingat kegiatan pemeliharaan memerlukan waktu, tanggungjawab dan kedisiplinan.

(sumber: http://www.ternakpertama.com)

Sunday, August 13, 2017

Pemeliharaan Ayam di Kandang Baterai Koloni



Kandang merupakan salah satu komponen yang menentukan keberhasilan usaha peternakan ayam. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa saat ini bahwa ayam petelur lebih dominan dipelihara di kandang postal dan baterai. Meskipun kedua tipe kandang tersebut hingga kini masih umum digunakan, belakangan muncul peternak yang menggunakan kandang koloni, mulai dari fase starterhingga fase layer.

Kandang koloni sendiri merupakan kandang yang dimaksudkan untuk menampung populasi ayam dalam satu kelompok. Sama halnya dengan kandang postal dan baterai konvensional (bersekat dan berisi 1-2 ekor), pemeliharaan ayam di kandang koloni juga memerlukan perhatian khusus, dimulai saat ayam masuk kandang (chick-in) hingga afkir. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain mengenai ukuran kandang, kepadatan, sirkulasi udara, manajemen ransum dan air minum, serta berbagai hal krusial lainnya.


Sekilas tentang Kandang Koloni

Pada prinsipnya kandang koloni hampir sama dengan kandang tipe baterai. Hanya saja, jika dalam satu kotak (sekatan) kandang baterai konvensional digunakan untuk memelihara 1 – 2 ekor ayam petelur, kandang koloni digunakan untuk menampung anak ayam (DOC) atau ayam dewasa dalam jumlah banyak dalam satu sekatan sekaligus. Tentunya tingkat kepadatan ayam disesuaikan dengan ukuran kandang koloni yang dibuat.

Di lapangan sendiri, kandang koloni memiliki banyak variasi dan sering dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan peternak. Variasi ini boleh saja dilakukan, dengan syarat ayam harus tetap merasa nyaman dipelihara di dalamya.

Menurut pengamatan Technical ServiceMedion, penggunaan kandang koloni di lapangan pada umumnya menggunakan 2 – 3 jenis kandang yang memiliki ukuran yang berbeda. Untuk ayam fasestarter dan grower dapat menggunakan kandang yang sama, namun perlu dilakukan penjarangan. Sedangkan jika ayam sudah memasuki fase layer, maka dilakukan pemindahan ke kandang yang ukurannya lebih besar.


Kandang Koloni Fase Starter – Grower (0 – 12 minggu)

Pada pemeliharaan ayam petelur secara umum, pemeliharaan fase starter dan growerdilakukan di kandang postal atau kandang panggung. Tipe pemeliharaan ini rupanya memiliki kekurangan, antara lain tidak terkontrolnya feed intake (konsumsi ransum) dan keseragaman berat badan ayam yang rendah. Pergerakan ayam yang terlalu bebas akan berisiko menghasilkan berat badan ayam yang tidak sesuai standar karena ayam banyak mengeluarkan energi saat bergerak. Padahal pencapaian berat badan pullet sesuai standar sangat menentukan performa ayam petelur di masa produksi. Untuk meminimalkan terjadinya kedua hal tersebut, pemakaian kandang koloni bisa menjadi salah satu alternatif solusi.

Kandang koloni untuk fase starter dan growermemiliki struktur dan ukuran yang sama. Ayam fasestarter dipelihara dalam kandang koloni dari umur 1 – 35 hari (0 – 5 minggu). Pada dasarnya pemeliharaan ayam fase ini memiliki prinsip yang sama dengan pemeliharaan di kandang postal dan panggung. Anak ayam masih memerlukan pengenalan terhadap tempat ransum, tempat minum, dan diperlukan pemanas pada saat awal pemeliharaan. Namun bedanya, anak ayam dipelihara di ruangan yang lebih sempit dengan kapasitas yang lebih rendah.

Satu kotak (box) kandang koloni fase starter –grower memiliki dimensi panjang 120 cm x lebar 70 cm x tinggi 35 cm.








Pada pemeliharaan fase starter yaitu umur 1 – 3 hari pertama, ransum dapat diberikan menggunakan tempat ransum berbentuk nampan (NRDOC/Nampan Ransum DOC) atau tempat ransum paralon (ditempatkan di luar kandang (Gambar 1)). Namun jika peternak menggunakan kandang kolonimodern, maka ransum diberikan menggunakan tempat ransum otomatis (konveyor).

Setelah ayam berumur 4 hari hingga fasegrower selesai, NRDOC dapat diganti seluruhnya dengan tempat ransum paralon atau konveyor. Sedangkan untuk tempat minum dapat menggunakan galon ukuran 1 liter (hingga umur seminggu), atau menggunakan nipple drinker sejak awal pemeliharaan hingga fase grower.

Kebutuhan pemanas (IGM) untuk kandang koloni fase starter ini bisa disamakan dengan kandang postal (konvensional), dengan kapasitas maksimal 1 IGM untuk 750-1000 ekor anak ayam. Namun jika konstruksi kandang pendek, dapat menggunakan lampu bohlam (lampu pijar) 1 buah untuk masing-masing box kandang koloni dengan daya 25 – 40 volt. Pengaturan sistem indukan buatan ini juga bisa dilakukan dengan mengombinasikan penggunaan lampu bohlam dan IGM.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pada fase grower hingga 12 minggu, ayam tetap diperlihara pada kandang yang sama, hanya saja kepadatannya dikurangi. Pada umur 7 – 12 minggu ini kepadatannya berkisar 12 – 13 ekor untuk setiap kandang koloni. Mengenai manajemen pengambilan kotoran/fesesnya, untuk kandang koloni manual (Gambar 1 dan 2) pengambilan dilakukan secara manual. Pengambilan kotoran ayam ini hendaknya dilakukan minimal 2 kali dalam seminggu.


Kandang Koloni Fase Grower – Layer (13 minggu– afkir)

Mulai umur 13 minggu ayam dipindahkan ke kandang koloni layer. Sama halnya dengan pemeliharaan ayam petelur konvensional, proses pindah kandang ini dimaksudkan agar ayam dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan kandang koloni yang baru. Setelah memasuki umur produksi (mulai 18 minggu) ayam tetap dipelihara di kandang yang sama hingga diafkir.

Kandang koloni layer memiliki dimensi lebih luas, lebih tinggi, dan bisa terdiri dari 3 – 4 tingkat jika dibandingkan dengan kandang fase starter – grower.Dimensi kandang koloni tersebut adalah panjang 50 cm x lebar 40 cm x tinggi 40 cm.

Dengan luasan kandang tersebut, idealnya satu kotak kandang berkapasitas 5 – 6 ekor ayam. Pada kandang koloni konvensional, tempat ransum yang digunakan bisa berupa paralon, dan tempat minumnya berupa nipple drinker. Sedangkan untuk kandang koloni modern, tempat ransumnya menggunakan sistem konveyor, dan tempat minumnya berupa nipple drinker.



Pada saat fase bertelur, proses pengambilan telur dan penanganan kotoran (feses) pada kandang koloni ini dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan konveyor.
Apakah Kandang Koloni Lebih Baik daripada Kandang Postal dan Baterai Konvensional?

Pada dasarnya pemeliharaan ayam di kandang koloni (manual dan otomatis) memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti tercantum pada Tabel 1.


Demikian bahasan tentang kandang koloni untuk edisi kali ini. Semoga artikel ini bisa memberikan gambaran kandang ayam petelur tipe baru yang bisa menjadi alternatif bagi peternak di Indonesia. Dengan mengetahui beberapa kelebihan dan kelemahannya, tentunya kita nanti dapat menentukan model kandang seperti apa yang akan kita gunakan untuk pemeliharaan ayam petelur, sehingga akan menambah keuntungan yang diperoleh. Semoga bermanfaat. (http://info.medion.co.id).

Google+ Followers

Followers

Total Tayangan