Wednesday, August 9, 2017

Vaksinasi Ayam Petelur Secara Benar untuk Produktivitas Maksimal


Dalam usaha peternakan unggas, masalah penyakit harus selalu diwaspadai karena akan merugikan peternak. Keberadaan penyakit dapat menurunkan produktivitas dan dapat menyebabkan kematian. Mencegah bibit penyakit masuk ke lingkungan peternakan dan ke dalam tubuh ternak merupakan cara ampuh yang dapat dilakukan. Yakni dengan cara biosekuriti dan vaksinasi yang ketat.
Vaksinasi merupakan tindakan memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak untuk melindungi ternak dari penyakit. Vaksin sendiri merupakan mikroorganisme/agen infeksi yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan diformulasikan sedemikian rupa yang digunakan untuk infeksi buatan. Fungsinya ialah menggertak pembentukan kekebalan (antibodi) pada ternak sehingga dapat mencegah infeksi penyakit.
Saat ini serangan penyakit sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah, baik penyakit viral maupun penyakit bakterial. Oleh karena itu tindakan pencegahan dengan vaksinasi sangat perlu dilakukan. Dengan berbagai pertimbangan seperti :
  • penyakit viral tidak dapat disembuhkan dengan pemberian obat
  • pengendalian terbaik dengan memberikan kekebalan pada ayam
  • adanya penyakit bakterial yang jika sudah terlanjur menyerang sulit diberantas secara tuntas sehingga mudah muncul kembali (misalnya korisa)
  • serta biaya kesehatan untuk pencegahan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan/terlanjur terjadi kasus penyakit
Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi beberapa faktor yang sering kita sebut dengan 4M:
  • Materi (vaksin dan ayam)
  • Metode (program vaksinasi dan teknik vaksinasi)
  • Manusia (keterampilan, sikap, dan pengetahuan)
  • Milieu/lingkungan (agen penyakit, biosekuriti, dan air)
 
 
Mengenal Jenis Vaksin
Berdasar jenis agen infeksinya vaksin yang beredar di lapangan umumnya berisi virus, bakteri maupun protozoa.
 
Secara umum berdasarkan sifat hidup agen infeksi yang terkandung dalam vaksin, produk vaksin dibedakan menjadi 2, yaitu: vaksin aktif (active vaccine, live vaccine, vaksin hidup) dan vaksin inaktif (killed vaccine, inactivated vaccine).
Vaksin aktif berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan. Sediaan vaksin aktif biasanya dalam bentuk kering beku. Sehingga pada aplikasi atau pemakaiannya harus dilarutkan dahulu menggunakan pelarut, dapat berupa larutan dapar, air biasa (minum) atau aqua destilata. Hal yang perlu diperhatikan saat vaksinasi dengan vaksin aktif adalah agen infeksi yang terkandung dalam vaksin harus segera masuk ke dalam tubuh ayam setelah dilarutkan, karena agen infeksinya hanya dilemahkan. Vaksinasi harus dilakukan secepat mungkin, dalam waktu kurang dari 2 jam. Setelah vaksin diberikan, maka agen infeksi yang terkandung akan menuju ke target organ kekebalan untuk bermultiplikasi kemudian menuju ke organ limfoid untuk menggertak pembentukan kekebalan.
Vaksin inaktif berisi agen infeksi yang telah diinaktifasi dengan pengertian mikroorganisme tersebut telah dimatikan, namun masih bersifat imunogenik/mampu menggertak pembentukan antibodi. Vaksin inaktif berbentuk emulsi atau suspensi karena mengandung adjuvant. Adjuvant merupakan bahan yang bersifat non antigenik/tidak berkemampuan merangsang terbentuknya antibodi. Adjuvant ditambahkan dalam vaksin inaktif untuk menambah daya kerja vaksin dengan efek depo, penyerapan sedikit demi sedikit ke dalam sirkulasi darah. Setelah masuk ke dalam tubuh, vaksin inaktif tidak perlu bereplikasi, tetapi langsung memacu jaringan limfoid untuk membentuk antibodi.
 
Vaksin berdasarkan jumlah agen infeksi yang terkandung dalam satu kemasan dibedakan menjadi vaksin tunggal dan vaksin kombinasi. Yang dimaksud vaksin tunggal yakni dalam satu kemasan hanya berisi satu macam/jenis agen infeksi. Misalnya Medivac ND La Sota atau Medivac ND Emulsion. Dalam satu kemasan hanya mengandung 1 agen infeksi yakni virus ND saja. Sedangkan vaksin kombinasi yakni dalam satu kemasan dapat berisi dua atau lebih macam/jenis agen infeksi. Misalnya Medivac ND-IB atau Medivac ND-EDS-IB Emulsion. Dalam satu kemasan mengandung dua (virus ND dan IB) atau lebih agen infeksi (virus ND, IB, dan EDS).

Penyusunan Program Vaksinasi
Salah satu pendukung keberhasilan vaksinasi yakni metode vaksinasi, yang mencakup program dan teknik vaksinasi. Penyusunan dan pelaksanaan program vaksinasi bertujuan untuk memperoleh kekebalan yang tinggi terhadap penyakit dan untuk mencegah beberapa penyakit tertentu pada peternakan tersebut. Program vaksinasi tidaklah baku, namun dapat berbeda-beda di suatu wilayah. Hal ini tergantung dari jenis ayam, jenis penyakit yang sering menyerang, tingkat keganasan penyakit di wilayah tersebut, umur serangan penyakit, maupun kepadatan peternakan di daerah tersebut.
Dalam menyusun program vaksinasi ayam broiler ada beberapa vaksin yang wajib diberikan terkait serangan penyakit yang cukup tinggi, seperti vaksin ND dan Gumboro. Tetapi perlu dipertimbangkan pula kerawanan dan riwayat daerah tersebut, misalnya terhadap serangan penyakit AI, IB maupun korisa. Program vaksinasi untuk ayam layer tentu berbeda dengan ayam broiler terkait masa pemeliharaan ayam layer yang lebih panjang. Ada beberapa vaksin yang wajib diberikan sebelum memasuki masa produksi, seperti vaksin ND, Gumboro, AI, IB, EDS, dan korisa. Namun bukan berarti vaksin lain tidak perlu diberikan, seperti ILT atau fowl pox. Tergantung akan riwayat atau tingkat kerawanan peternakan tersebut. Sebagai gambaran penyusunan program vaksinasi standar pada ayam broiler dan layer, dapat dilihat pada Tabel 3, 4, dan 5. Namun program tersebut hanya sebagai panduan umum saja dan dapat diubah sesuai kondisi masing-masing peternakan.
 
Vaksinasi menjelang masa produksi bertujuan supaya antibodi protektif yang dihasilkan dapat bertahan lama hingga puncak produksi. Maka pemilihan vaksin menjelang masa produksi yakni vaksin inaktif. Tujuannya agar saat puncak produksi tidak perlu dilakukan vaksinasi. Awal produksi sampai dengan puncak produksi merupakan masa kritis masa produksi sehingga perlu meminimalisir stres salah satunya efek vaksinasi misalnya saat proses handling/penanganan ayam. Penentuan jadwal vaksinasi ulang setelah masuk masa produksi atau setelah puncak produksi lebih tepat jika berdasarkan hasil pemantauan titer antibodi.

Mengenal Teknik Vaksinasi
Selain program vaksinasi, keberhasilan vaksinasi juga dipengaruhi teknik vaksinasi. Tujuan kita mengetahui teknik yang benar agar saat vaksinasi ayam mendapatkan 1 dosis penuh secara seragam sehingga diperoleh antibodi dalam jumlah yang optimum dan seragam. Beberapa teknik vaksinasi yang umum di lapangan adalah tetes (mata/hidung/mulut), air minum, spray, suntikan (subkutan/intramuskuler) maupun tusuk sayap.
  • Tetes mata, hidung atau mulut
    Vaksin yang diberikan secara tetes adalah vaksin aktif. Sebelum digunakan, vaksin perlu dilarutkan ke dalam larutan dapar untuk menaikkan suhu secara bertahap/thawing dan membangunkan agen infeksi yang dimati-surikan dalam keadaan kering beku. Isi setengah vial vaksin dengan larutan dapar dan kocok sampai tercampur rata. Tuangkan larutan vaksin ke dalam botol larutan dapar dan kocok hingga tercampur rata.
    Aplikasi tetes mata diberikan dengan meneteskan larutan vaksin pada mata satu tetes tiap ekor, tunggu sampai vaksin betul-betul masuk ke dalam mata (ayam akan mengejapkan mata berkali-kali) baru dilepaskan. Jika menggunakan tetes hidung, tutup lubang hidung yang lain pada saat meneteskan vaksin dan lepaskan setelah vaksin terhirup. Apabila menggunakan tetes mulut, teteskan satu tetes larutan vaksin melalui mulut. Pastikan sampai vaksin benar-benar masuk ke dalam mulut hingga ayam ada reflek menelan. Saat vaksinasi, hal yang perlu diperhatikan yakni cara handling agar vaksinasi tepat.





Vaksinasi ND dan IB pertama lebih baik hasilnya bila diberikan melalui tetes mata/hidung dan vaksinasi Gumboro pertama melalui tetes mulut. Karena pintu masuk virus ND dan IB adalah di saluran pernapasan dan sekaligus mengaktifkan kelenjar harderian (organ kekebalan) di daerah mata. Serta tiap ekor ayam mendapatkan 1 dosis penuh karena konsumsi air minum belum merata.

  • Air minum
    Teknik vaksinasi melalui air minum merupakan teknik yang paling sering digunakan peternak. Karena dapat diberikan secara masal, praktis, dan mudah dilakukan. Namun perlu diingat, teknik ini juga mempunyai kelemahan yaitu sulit dikontrol keseragaman jumlah air yang diminum ayam. Cara vaksinasi air minum cocok untuk ayam dewasa/lebih dari 3 minggu, karena jumlah konsumsi air minum ayam dewasa relatif stabil. Vaksinasi melalui air minum bisa menjadi alternatif untuk vaksinasi ulangan. Namun beberapa hal yang perlu diperhatikan saat vaksinasi melalui air minum, yakni:
    • Pastikan kualitas air minum baik. Air harus terbebas dari logam berat dan bahan kimia seperti desinfektan/klorin. Maka hentikan pemakaian desinfektan melalui air minum 48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Untuk itu, tambahkan stabilizer/penstabil agar kualitas air bagus saat digunakan, seperti Medimilk atau Netrabil.
    • Agar semua ayam memperoleh dosis vaksin yang tepat, maka saat vaksinasi kita perlu memastikan:
      • Kebutuhan air minum ayam
        Vaksin aktif harus habis dalam waktu kurang dari 2 jam sehingga jumlah air minum harus disesuaikan dengan kebutuhan selama waktu tersebut. Perkiraan kebutuhan air minum dapat dilihat pada tabel berikut. Namun ini hanya sebagai panduan umum, konsumsi air minum juga dipengaruhi kondisi cuaca lingkungan.
        Untuk mengetahui jumlah konsumsi air minum ayam dapat juga dilihat dari feed intake.
         
        Isi setengah vial dengan air minum, kemudian vial ditutup kembali dan dikocok perlahan sampai tercampur rata, lalu campurkan ke dalam air minum.
      • Vaksin harus segera terkonsumsi
        Sebelum diberi air minum yang berisi vaksin, puasakan ayam dari air minum selama 1–2 jam, tergantung cuaca. Sediakan tempat minum dalam jumlah yang cukup dan distribusi merata agar seluruh ayam dapat minum bersama-sama sekaligus. Jangan menggunakan tempat minum dari kaleng. Operator harus mengontrol/memastikan saat proses vaksinasi sehingga jika ayam tidak bisa mengakses TMA maka perlu dibantu dengan mendekatkan ke TMA. Jika menggunakan nipple drinker maka dapat dirangsang dengan menekan nipple drinker untuk mengeluarkan air sehingga ayam mau minum.
    • Letakkan air minum yang berisi vaksin di tempat yang teduh, jangan kena panas dan sinar matahari langsung
  • Spray
    Siapkan pelarut berupa aquades atau air bersih, pH netral, bebas zat besi, dan klorin. Kemudian larutkan seluruh isi vial vaksin ke dalam pelarut sampai tercampur rata dan masukkan ke dalam sprayer dengan hati-hati. Sebaiknya sprayer yang dipakai hanya untuk vaksinasi. Tutup semua pintu dan lubang ventilasi, matikan kipas angin. Semprotkan ke seluruh ayam dengan jarak 30–40 cm dari atas kepalanya, lebih baik dilaksanakan pada saat semua ayam "mendekam”. Kandang dibuka kembali dan kipas dinyalakan lagi 20–30 menit setelah selesai penyemprotan.
  • Suntikan (intramuskuler/subkutan)
    Vaksinasi suntikan diberikan dengan suntikan intramuskular (tembus daging/otot) di paha/dada atau subkutan (bawah kulit) di leher bagian belakang sebelah bawah. Vaksinasi dengan cara suntikan harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, dapat mengakibatkan kegagalan dan berakibat fatal. Seperti ayam menjadi stres, leher terpuntir maupun terjadinya kebengkakan pada area suntikan. Alat suntik yang digunakan dapat berupa alat suntik manual/disposable syringe atau jika jumlah ayam banyak dapat menggunakan alat suntik otomatis/socorex yang dapat disterilisasi dan digunakan kembali. Vaksinasi suntikan dengan vaksin inaktif, sebelumnya vaksin perlu di-thawing dengan menggenggam dan menggesekkan kedua tangan hingga vaksin tidak berembun. Setelah di-thawing vaksin langsung disuntikkan sesuai dosis vaksin (misalnya 0,5 ml untuk ayam dewasa dan 0,2 ml untuk anak ayam). Jika vaksinasi suntikan menggunakan vaksin aktif, maka vaksin perlu dilarutkan dalam aquades terlebih dahulu. Misalnya dosis yang diberikan ke ayam 0,5 ml/ekor, maka untuk vaksin kemasan 100 dosis perlu dilarutkan dalam 50 ml aquades.




  • Tusuk sayap
    Vaksinasi tusuk sayap diberikan untuk vaksin cacar/fowl pox atau vaksinasi kombinasi AE dan fowl pox. Sebelum digunakan, pasang plastik penghubung pada botol vaksin lalu hubungkan dengan botol pelarut vaksin. Tuangkan pelarut ke dalam botol vaksin dan pindahkan kembali ke botol pelarut sampai vaksin terlarut homogen. Celupkan jarum penusuk ke dalam larutan vaksin sampai seluruh bagian jarum tercelup. Vaksinasi dilakukan dari bagian dalam sayap. Rentangkan sayap dan tusukkan jarum penusuk pada bagian lipatan sayap yang tipis dan jangan sampai mengenai pembuluh darah, tulang, dan urat daging sayap. Vaksin tidak boleh menyentuh bagian tubuh lain kecuali tempat vaksinasi. Vaksinasi dinyatakan berhasil jika terdapat radang berbentuk benjolan dengan diameter 3-5 mm pada lokasi tusukan. Reaksi ini akan muncul 3-7 hari setelah vaksinasi dan sembuh dalam waktu kurang dari 3 minggu.
 

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Vaksinasi
Agar kekebalan hasil vaksinasi optimal, sebaiknya saat melakukan vaksinasi perlu memperhatikan hal-hal berikut:
  • Jangan gunakan vaksin jika botol retak atau segel rusak serta catat nomer batch vaksin dan perhatikan tanggal kedaluwarsanya
  • Ayam yang akan divaksin dalam kondisi sehat. Misalnya jika ayam sedang terkena korisa, sebaiknya dilakukan pengobatan terlebih dahulu
  • Gunakan teknik vaksinasi sesuai anjuran (tepat teknik) dan jika menggunakan alat suntik, pastikan alat suntik yang digunakan steril
  • Pastikan setiap ekor mendapat dosis yang sama dan seragam. Saat vaksinasi, hindari perlakuan kasar yang menyebabkan ayam stres atau salah suntik dan tidak tergesa-gesa, tidak ada ayam “lolos” tidak tervaksin serta perhatikan batas waktu vaksin setelah dilarutkan
  • Beberapa faktor yang dapat menyebabkan ketidak-keseragaman dosis, yaitu :
    • Lama pelaksanaan vaksinasi lebih dari 2 jam sejak vaksin dilarutkan, sehingga ada kemungkinan agen infeksi dalam vaksin menjadi mati yang berakibat ayam yang divaksin belakangan tidak mendapat dosis minimal yang diperlukan
    • Terdapat buih pada alat suntik sehingga volume larutan vaksin tidak terisi penuh
    • Vaksin yang sudah di-thawing diletakkan kembali di suhu dingin
    • Saat vaksinasi, agen infeksi yang terkandung dalam vaksin terkena suhu tinggi (terlalu dekat dengan pemanas atau kontak dengan sinar matahari)
    • Larutan vaksin tercemar desinfektan/logam berat/kaporit, pH pelarut yang sangat rendah (pH asam) atau sangat tinggi (pH basa)
  • Tiga hari sebelum dan sesudah vaksinasi, berikan vitamin atau imunomodulator (bahan alami/buatan yang dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan) seperti Imustim untuk daya tahan dan hasil optimal
    Agar hasil vaksinasi optimal, maka salah satu faktor yang perlu kita perhatikan yakni metode vaksinasi, seperti program vaksinasi dan teknik vaksinasinya. Namun perlu didukung dengan kualitas vaksin yang digunakan, kondisi ayam, pelaksana/operator dan pengelolaan lingkungan yang baik. (https://info.medion.co.id)

No comments:
Write komentar

Google+ Followers

Followers

Total Tayangan